Jumat, 09 Juni 2017

Contoh Skripsi Penelitian Tindakan Kelas

Contoh Skripsi Penelitian Tindakan Kelas

Cuma 350ribu sampai-500ribu. 


Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)

  1. Upaya Meningkatkan Perkembangan Fisik Motorik Halus Pada Anak Kelompok B Melalui Bermain Kreatif di RA Masyitoh Mangunan Pada Tahun Pelajaran 2013/2014
  2. Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Permainan Konstruktif Pada Siswa Kelompok B2 di RA Sunan Pandanaran Tahun Ajaran 2012/2013
  3. Upaya Meningkatkan Pengenalan Geometri Dengan Permainan Puzzle Bervariasi Pada Kelompok B TK Al-Hikmah Randudongkal-Pemalang Tahun Ajaran 2012/2013
  4. Meningkatkan Pengetahuan Sains Melalui Pendekatan Eksplorasi Lingkungan Sekitar di TK Pertiwi Kenjer Kecamatan Kertek Kabupaten Wonosobo Kelompok B Tahun Ajaran 2012/2013
  5. Upaya Meningkatkan Kemampuan Kerjasama Melalui Permainan Tradisional Pada Anak Kelompok A TK ABA Ledok I Kulon Progo Tahun Ajaran 2013/2014
  6. Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Metode Bermain Plastisin Pada Siswa Kelompok B TK Masyithoh 02 Kawunganten Cilacap Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012
  7. Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Dengan Menggunakan Media Boneka Tangan Pada Anak Kelompok B TK Pembina Cawas Kabupaten Klaten Tahun Pelajaran 2011/2012
  8. Penerapan Metode Bermain Bowling Aritmatika Untuk Mengembangkan Kemampuan Kognitif (Penelitian Tindakan Kelas Kelompok B di TK Kemala Bhayangkari 08 Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun ajaran 2012/2013)
  9. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Media Gambar Berseri Pada Anak Kelompok A di TK ABA Barahan Galur Kulonprogo
  10. Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Melalui Metode Bercerita Dengan Wayang Fantasi di Kelas A RA Al-Ikhlas Kecandran Sidomukti Kota Salatiga Tahun 2009/2010
  11. Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring Dengan Teknik Balainang Melalui Media Buku Bergambar Pada Siswa Kelas 1 SD Negeri Karangduren 3 Tengaran Semarang
  12. Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Melalui Media Kartu Kata Siswa Kelas I SDIT Haji Soebandi Bawen 2009/2010
  13. Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur`an dengan Menggunakan Media Kartu Bergambar pada Anak Usia Dini, TK Islam Izzatul Islam Samirono, Getasan, Kab. Semarang Tahun Pelajaran 2010/2011.
  14. Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Melalui Permainan Kartu Huruf Pada Siswa Kelas I SDN 1 Bulurejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu
  15. Efektivitas Peran Guru Pendamping Dalam Membantu Proses Pembelajaran Pada Taman Kanak-Kanak di Kota Semarang
  16. Peningkatan Kemampuan Keaksaraan Pada Anak Melalui Metode Teka-Teki Bergambar Di RA Muslimat NU Pasuruhan 1 Mertoyudan Magelang
  17. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Dongeng Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas I Sekolah Dasar Negeri 2 Bendosari Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali Tahun 2010
  18. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Sebagai Persiapan Menulis Permulaan Melalui Keterampilan Kolase Pada Anak Tunagrahita Ringan Kelas 1 di SLB Negeri Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010
  19. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Subtema Kegiatan Keluargaku Mengacu Kurikulum SD 2013 Untuk Siswa Kelas Satu (1) Sekolah Dasar
  20. Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Anak Dengan Memanfaatkan Media Pembelajaran Berbasis Flash di TK B Al-Madina Semarang Tahun 2012/2013
  21. Efektivitas Pemberian Reward Melalui Metode Token Ekonomi Untuk Meningkatan Kedisiplinan Anak Usia Dini
  22. Membangun Pemahaman Karakter Kejujuran Melalui Permainan Tradisional Jawa Pada Anak Usia Dini di Kota Pati
  23. Peningkatkan Kemampuan Berhitung Melalui Permainan Balok Angka Pada Anak Kelompok B di TK Universal Ananda Kecamatan Patebon Kendal
  24. Pengembangan Media Bola Tangkup Untuk Stimulasi Kemampuan Motorik Kasar Anak Tunanetra
  25. Meningkatkan Keterampilan Sosial Dan Kerjasama Anak Dalam Bermain Angin Puyuh (Penelitian Tindakan Kelas Kelompok B di TK Kemala Bhayangkari 08 Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang Tahun ajaran 2012/2013)
  26. Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Melalui Metode Bermain Peran Pada Anak Usia 4-5 Tahun Semester 1 di TK Nasima Semarang Tahun Pelajaran 2012/2013
  27. Meningkatan Kemampuan Bahasa Melalui Metode Bercerita Dengan Media Audio Visual di Kelompok B1 RA Perwanida 02 Slawi
  28. Peningkatkan Pemahaman Gizi Seimbang Pada Anak Melalui Kegiatan Membentuk Kreasi Makanan di Kelompok B TK Darul Ulum Ngembalrejo Kecamatan Bae Kabupaten Kudus
  29. Penelitian Tindakan Kelas Eksplorasi Bentuk-Bentuk Geometri Dengan Berbagai Media Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Pada Kelompok A1 TK Masyithoh Tunas Bangsa, Karangluhur, Kalianget, Wonosobo Tahun Pelajaran 2012-2013
  30. Peningkatan Keterampilan Bicara Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Metode Bercerita (Wayang Beber Tematik) di Kelompok Bermain Al-Jauhariyyah Muslimat NU Kajen Margoyoso Pati
  31. Peningkatan Kemampuan Komunikasi Anak Usia 3-4 Tahun Melalui Permainan Balok Unit di Sentra Balok (Penelitian Tindakan Kelas di Kelompok Bermain Lab School UNNES)
  32. Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Origami Pada Anak Kelompok A Roudlotul Athfal (RA) Al-Ikhlas Semarang Barat
  33. Meningkatkan Kemampuan Kognitif Bentuk Geometri Dengan Menggunakan Media Alam Sekitar di TK PGRI 79/03 Ngaliyan, Semarang
  34. Peningkatan Kemampuan Berhitung Permulaan Melalui Permainan Tabung Angka di Kelompok Bermain Miftahul Jannah, Ngaliyan, Semarang
  35. Peningkatan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Cerita Bergambar Pada Anak didik Kelompok B TK Bhayangkari 68 Mondokan
  36. Peran Komunikasi Verbal Dan Non Verbal Dalam Penanaman Akhlak Pada Anak Usia Dini di Taman Kanak-Kanak Islam Al-Muttaqin
  37. Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Berbasis Soft Skill Melalui Pembelajaran Senam Fantasi Pada Siswa Kelompok A RA Muslimat NU Sukosari Bandongan Magelang
  38. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Dengan Metode Demonstrasi Dalam Pemanfaatan Bahan Bekas Pada Kelompok B di Raudhatul Athfal Jamus Ngluwar Magelang Tahun Ajaran 2013/2014
  39. Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak Dengan Metode Bermain Kelompok Pada Siswa Kelompok A Kelas Firdaus RA Perwanida Grabag Magelang
  40. Penggunaan Kartu Kata Bergambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pada Anak Usia Dini di RA Uswatun Hasanah Trenten Candimulyo Kabupaten Magelang
  41. Upaya peningkatan motivasi belajar shalat melalui penerapan metode demonstrasi pada siswa kelompok B Ram NU ngadiharjo 2 kec. Borobudur kab. Magelang
  42. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Metode Permainan Kartu Huruf di Kelompok B TK Aisyiyah Bustanul Athfal Koripan Poncosari Srandakan Bantul
  43. Penerapan Metode Bermain Kartu Kata Bergambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pada Siswa Kelompok B RA Muslimat NU Rejosari I Bandongan Magelang
  44. Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggunting Dengan Berbagai Media Pada Anak Usia Dini di Kelompok A TK ABA Gendingan Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman Yogyakarta
  45. Peran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Terhadap Sosialisasi Anak di Dalam Keluarga (Studi Terhadap Keluarga yang Menyekolahkan Anaknya di PAUD Kasih Ibu, Jakarta)]
  46. Pengembangan Media Buku Bergambar Tema “Tanah Airku” Untuk Menstimulasi Aspek Bahasa Anak Taman Kanak-Kanak Kelompok B
  47. Peningkatan Perkembangan Motorik Halus Melalui Finger Painting Pada Anak Kelompok A TK Bangsri 01 Karangpandan Tahun Pelajaran 2011-2012
  48. Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar Anak Melalui Bermain Lempar Tangkap Bola Besar Kelompok B TK Al Hidayah Semawung Banjaroyo Kalibawang Kulonprogo
  49. Peningkatan Kreativitas Anak Dalam Pembelajaran Tari Dolanan Anak Usia Dini Melalui Metode Beyond Center And Circles Time (BCCT) di PAUD Sekarsari Sidokarto Godean Sleman
  50. Meningkatkan disiplin Belajar Siswa Dengan Menggunakan Reward Sticker Pictured: Studi Terhadap Kelas II SDN Pisangan 03 Legoso Ciputat Timur Tangerang Selatan (Penelitian Tindakan Kelas pada siswa kelas II SDN 03 Legoso Ciputat Timur Tangerang Selatan)
  51. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Mewarnai di Kelompok B TK KKLKMD Sedyo Rukun Bambang Lipuro Bantul
  52. Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Anak Melalui Lompat Tali Pada Kelompok A di TK ABA Ngabean I Tempel Sleman
  53. Upaya Meningkatkan Kema Mpuan Melempar Bola Secara Terarah Melalui Bermain Bowling Sederhana Pada Anak Kelompok A di TK Widya Mulya Losari Ngaglik Sleman
  54. Peningkatan Kreativitas Anak Dalam Pembelajaran Seni Tari Melalui Strategi Belajar Sambil Bermain di TK ABA Karangmalang
  55. Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Melipat Kertas Pada Kelompok B4 di TK Masjid Syuhada Yogyakarta
  56. Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Teknik Mozaik Pada Anak Kelompok A di TK ABA Khadijah Bangunjiwo Timur Kasihan Bantul
  57. Peningkatan Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri Melalui Permainan Dakon Geometri Pada Anak Kelompok A di TK Arum Puspita Triharjo Pandak Bantul
  58. Peningkatan Kreativitas Melalui Kegiatan Kolase Pada Anak Kelompok B2 di TK ABA Keringan Kecamatan Turi Kabupaten Sleman
  59. Kemampuan Mengenal Warna Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Segugus III Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo
  60. Meningkatkan Keterampilan Berbicara Menggunakan Metode Bercerita Dengan Media Boneka Tangan Pada Anak Kelompok A1 di TK Kartika III-38 Kentungan,Depok, Sleman
  61. Peningkatan Kemampuan Mengenal Kata Melalui Metode Permainan Ular Tangga Kata Pada Anak Kelompok A TK Sinar Melati I Sariharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta.
  62. Peningkatan Kemampuan Mengenal Huruf Vokal Dan Konsonan Melalui Permainan Kancing Huruf Pada Anak Kelompok B TK Masyithoh Ngasem Sewon Bantul Yogyakarta
  63. Meningkatkan Kemampuan Menulis Anak Melalui Permainan Meniru di TK Iqra Kec.Abuki Kab.Konawe
  64. Meningkatkan Keterampilan Berbicara Melaluimetode Bercakap-Cakap Dengan Media Gambar Pada Anak Kelompok B2 di TK ‘Aisyiyah Randubelang
  65. Meningkatkan Kemampuan Mengenal Bentuk-Bentuk Geometri Datar Melalui Permainan Tradisional Gotri Legendri Pada Anak Kelas B TK Sunan Kalijogo
  66. Studi Kemampuan Berhitung Anak TK Kelompok B Se-Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta
  67. Peningkatan Kemampuan Mengenal Angka 1-10 Sebagai Lambang Banyaknya Benda Melalui Media Benda Alam Pada Anak Kelompok “A” TK Al-Husna Yogyakarta
  68. Peningkatan Kemampuan Mengenal Huruf Melalui Media Papan Flanel Pada Anak Usia Dini di Tempat Penitipan Anak Beringharjo Yogyakarta
  69. Upaya Meningkatkan Kecerdasan Kinestetik Melalui Bermain Kucing Dan Tikus Pada Siswa Kelompok B di TK Model Sleman Yogyakarta
  70. Peningkatan Kemampuan Keaksaraan Melalui Media Kartu Bergambar di TK PKK 105 Karanganyar Gadingharjo Sanden Bantul
  71. Meningkatkan Kecerdasan Kinestetik Melalui Games Ball (Permainan Bola) Pada Anak Kelompok Bermain Masjid Syuhada
  72. Peningkatan Kemampuan Mengenal Huruf Melalui Metode Permainan Kartu Huruf Pada Kelompok B1 TK ABA Ketanggungan Wirobrajan Yogyakarta
  73. Peningkatan Pembiasaan Nilai Agama, Moral, Sosial, Emosional, Dan Kemandirian Anak Melalui Dongeng di Taman Kanak-Kanak Dharmasiwi Purworejo Hargobinangun Pakem Sleman Yogyakarta
  74. Peningkatan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Media Animasi Pada Anak Kelompok B1 TK KKLKMD Sedyo Rukun, Bambanglipuro Bantul
  75. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Media Gambar Pada Anak Kelompok A di TK Bener Yogyakarta
  76. Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengenal Huruf Menggunakan Media Kartu Kata di TK Sulthoni Ngaglik Sleman
  77. Meningkatkan Keterampilan Matematika Anak Melalui Aktivitas Menggambar Pada Kelompok B di TK Kartika XX-50 Ranomeeto
  78. Peningkatan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan Melalui Bermain Kartu Angka Bergambar Anak Kelompok A1 TK Masjid Syuhada Yogyakarta
  79. Peningkatan Kemampuan Sosial Emosional Melalui Media Power Point Pada Anak Usia Dini 5-6 Tahun di TK SD Model Sleman
  80. Upaya meningkatkan Keterampilan Motorik Kasar Anak Kelompok B1 Melalui Permainan Dengan Simpai di TK ABA Gendingan Yogyakarta
  81. Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Melalui Permainan Kotak Sortasi di Kelompok B TK Alfiansyah Zanur BTN Wirabuana Kota Kendari
  82. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menganyam Pada Anak Kelompok A2 di TK PKK 30 Mulyorini Surobayan Argomulyo Sedayu Bantul
  83. Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Penggunaan Media Papan Flanel Pada Anak Kelompok B1 di TK ABA Karangmojo XVII Karangmojo Gunungkidul
  84. Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Meronce Menggunakan Bahan Tanah Liat Pada Kelompok B TK Yayasan Masyithoh Beran Bugel Kulon Progo
  85. Upaya Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Melalui Penerapan Metode Eksperimen Pada Kelompok B1 di TK Assa’adah Baledono Purworejo
  86. Penerapan Pendidikan Inklusif Pada Pembelajaran Taman Kanak-Kanak Kelompok A (Studi Kasus di Komimo Playschool Yogyakarta)
  87. Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Melalui Gerak Lokomotor Pada Anak Kelompok B TK ABA Gondang
  88. Peningkatkan Pemahaman Konsep Bilangan Melalui Permainan Memancing Angka Pada Anak Kelompok A di RA Masyithoh Kalisoka Triwidadi Pajangan Bantul
  89. Peningkatan Kemampuan Membilang Menggunakan Balok Cuisenaire Pada Anak Kelompok A TK Sunan Kalijogo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman
  90. Analisis Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Finger Painting Pada Anak TK Kelompok B Segugus PAUD 06 Imogiri Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul
  91. Strategi Pembelajaran Anak Lamban Belajar (Slow Learners) di Sekolah Inklusi SD Negeri Giwangan Yogyakarta
  92. Peningkatan Kemampuan Bekerjasama Melalui Metode Bermain Pada Kelompok B di TK PKK 54 Pucung Pendowoharjo Sewon Bantul
  93. Upaya Meningkatkan Kecerdasan Sosial – Emosional Anak Melalui Bermain Peran Pada TK A PAUD Taman Belia Candi Semarang Tahun Ajaran 2012/2013
  94. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Media Boneka Tangan Pada Anak Kelompok B1 di TK ABA Dukuh Gedongkiwo, Yogyakarta
  95. Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan Melalui Kegiatanbermain Kartu Angka Pada Anak Kelompok A di TKA Bajimbung I, Kalikotes, Klaten
  96. Peningkatan Keterampilan Sosial Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Kegiatan Bermain Peran di TKIT Al-Muhajirin Sawangan Magelang
  97. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Kartu Kata Bergambar Pada Anak Kelompok B2 RA Ma’arif NU Karang Tengah Kertanegara Purbalingga
  98. Peningkatan Kelincahan Melalui Aktivitas Bermain Halang Rintang Anak Kelompok B 2 TK Negeri Pembina Panjatan Kulon Progo
  99. Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Melalui Aktivitas Menggambar Pada Anak Kelompok A di TK ABA Ngabean 2
  100. Meningkatkan Kemampuan Kerjasama Melalui Permainan Menyusun Puzzle Berkelompok di Rhaudhatul Athfal Masyithoh Kantongan Kelompok A

PTK Taman Kanak Kanak

PTK Taman Kanak Kanak

Cuma 350ribu sampai-500ribu. 


Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-Kanak adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di Sekolah Dasar.

Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Taman Kanak-Kanak merupakan lembaga pendidikan pra-sekolah atau pra-akademik. Dengan demikian Taman Kanak-Kanak tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membina kemampuan akademik anak seperti kemampuan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan akademik atau skolastik ini harus menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan Sekolah Dasar.

Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan dalam praktik kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab pengembangan kemempuan skolastik dari Sekolah Dasar ke Taman Kanak-Kanak terjadi di mana-mana, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Banyak Sekolah Dasar seringkali mengajukan persyaratan atau tes “membaca dan menulis”. Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar seperti ini sering pula di anggap sebagai lembaga pendidikan “berkualitas dan bonafide”.

Peristiwa praktik pendidikan seperti itu mendorong lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak maupun orang tua berlomba mengajarkan kemampuan akademik membaca dan menulis dengan mengadapsi pola-pola pembelajaran di Sekolah Dasar. Akibatnya, tidak jarang Taman Kanak-Kanak tidak lagi menerapkan prinsip-prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain, sehingga Taman Kanak-Kanak tidak lagi taman yang indah, tempat bermain dan berteman banyak, tetapi beralih menjadi “Sekolah” Taman Kanak-Kanak dalam makna menyekolahkan secara dini pada anak-anak. Tanda-tandanya terlihat pada pentargetan kemampuan akademik membaca dan menulis agar bisa memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar favorit. PTK Taman Kanak Kanak

Mengajarkan membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak dapat dilaksanakan selama batas-batas aturan pengembangan pra-sekolah serta mendasarkan diri pada prinsip dasar hakiki dari pendidikan Taman Kanak-Kanak sebagai sebuah taman bermain, sosialisasi, dan pengembangan berbagai kemampuan pra-skolastik yang lebih substansi yaitu bidang pengembangan kemampuan dasar yang meliputi kemampuan berbahasa atau membaca kognitif, fisik-motorik dan seni.

Mencermati kondisi kegiatan pembelajaran membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak yang berlangsung sebagaimana digambarkan di atas, perlu dilakukan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi. Dengan serangkaian tindakan itu diharapkan dapat mengubah suasana pembelajaran ke arah pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa terlibat secara aktif dan menyenangkan. Hal itu dapat dicapai dengan melalui pembelajaran menggunakan media gambar. Media gambar adalah penyajian visual 2 dimensi yang dibuat berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar, yang berisi unsur kehidupan sehari-hari tentang manusia benda-benda, binatang, peristiwa, tempat dan sebagainya (Taufik Rachmat, 1994).

Gambar banyak digunakan guru sebagai media dalam proses belajar mengajar, sebab mudah diperoleh tidak mahal dan efektif, serta menambah gairah dalam motivasi belajar siswa.
B.    Rumusan Masalah PTK Taman Kanak Kanak

Agar penelitian tindakan ini dapat lebih terarah, maka secara operational permasalahan penelitian ini difokuskan pada media gambar dan guru dalam pelaksananaan proses belajar mengajar, membaca di Kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Secara rinci permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak secara klasikal ?
  2. Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok ?
  3. Apakah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah mereka mengikuti pembelajaran membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar?
C.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menemukan terjadinya peningkatan kemampuan membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
  1. Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara klasikal.
  2. Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok.
  3. Menemukan terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar.
D.    Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian yang menjadi batasan materi dalam penelitian adalah kemampuan berbahasa dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak Kelompok B. penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo.

E.    Definisi Operasional PTK Taman Kanak Kanak

Untuk mendapatkan kesamaan arti pada penelitian ini dipertukarkan pendefinisian istilah :
  1. Kemampuan berbahasa yang diajarkan di Taman Kanak-Kanak kelompok B pada penelitian ini sesuai dengan materi yang terdapat pada kurikulum Taman Kanak-Kanak 2004 yaitu kemampuan membaca permulaan (pra membaca), sedangkan pelaksanaannya menggunakan pendekatan temaik dan pembelajaran yang berorientasi pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.
  2. Yang dimaksud siswa mampu membaca permulaan (pra membaca) adalah siswa dapat menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya atau media gambarnya.
F.    Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi :
  1. Siswa Taman Kanak-Kanak, agar mereka terbiasa dalam suasana kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
  2. Bagi guru Taman Kanak-Kanak, dengan penerapan media gambar, guru memperoleh pengalaman baru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak yang berpusat pada anak.
  3. Bagi peneliti, dapat membantu guru dalam mengatasi masalah dalam pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PTK Taman Kanak Kanak


A.    Perkembangan Kemampuan Berbahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak  yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik pada umumnya memiliki kemampuan yang baik pula dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan serta tindakan interaktif dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa ini tidak selalu didominasi oleh kemampuan membaca saja tetapi juga terdapat sub potensi lainnya yang memiliki peranan yang lebih besar seperti penguasaan kosa kata, pemahaman (mendengar dan menyimak) dan kemampuan berkomunikasi.

Pada usia Taman Kanak-Kanak (4 – 6 tahun), perkembangan kamampuan berbahasa anak ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut :
  1. Mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi.
  2. Memiliki  berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya dan kata sambung.
  3. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
  4. Mampu menggungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
  5. Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar

Perkembangan kemampuan tersebut muncul ditandai oleh berbagai gejala seperti senang bertanya dan memberikan informasi tentang berbagai hal, berbicara sendiri, dengan atau tanpa menggunakan alat seperti (boneka, mobil mainan, dan sebagainya). Mencoret-coret buku atau dinding dan menceritakan sesuatu yang fantastik. Gejala-gejala ini merupakan pertanda munculnya kepermukaan berbagai jenis potensi tersembunyi (hidden potency) menjadi potensi tampak (actual potency). Kondisi tersebut menunjukkan berfungsi dan berkembangnya sel-sel saraf pada otak. (DepDikNas, 2000 : 6)

Secara khusus, perkembangan kemampuan membaca pada anak berlangsung dalam beberapa tahap sebagai berikut:

1.    Tahap fantasi (magical stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak.

2.    Tahap pembentukan konsep diri (self concept stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.
Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak. Guru hendaknya memberikan akses pada buku-buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membacakan buku.

3.    Tahap membaca gambar (bridging reading stage)
Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalinya serta sudah mengenal abjad.
Pada tahap ketiga, guru membacakan sesuatu pada anak-anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan sesering mungkin.

4.    Tahap pengenalan bacaan (take-off reader stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (fraphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.
Pada tahap keempat guru masih harus membacakan sesuatu pada anak-anak sehingga mendorong anak membaca suatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna.

5.    Tahap membaca lancar (independent reader stage)
Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca. (DepDikNas, 2000 : 7 – 8).

Untuk memberikan rangsangan positif terhadap munculnya berbagai potensi keberbahasaan anak diatas maka permainan dan berbagai alatnya memegang peranan penting. Lingkungan (termasuk didalamnya peranan orang tua dan guru) seharusnya menciptakan berbagai aktifitas bermain secara sederhana yang memberikan arah dan bimbingan agar berbagai potensi yang tampak akan tumbuh dan berkembang secara optimal
BAB III
METODE PENELITIAN
PTK Taman Kanak Kanak


A.    Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, penelitian ini berangkat dari masalah yang di dapat di lapangan, kemudian direfleksikan dan dianalisis berdasarkan teori yang menunjang, kemudian dilaksanakan tindakan di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh tidak dapat digeneralisasikan pada ruang lingkup yang lebih luas, karena untuk kondisi dan situasi yang berbeda hasilnya dapat berbeda. Penelitian ini dapat dijadikan model untuk memberikan rekomendasi pada situasi yang lain (Arifin Imron, 1990 : 4)

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian berusaha untuk memahami makna peristiwa dari interaksi yang terjadi selama penelitian berlangsung.

B.    Model Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, karena penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pada penelitian tindakan yang meliputi penyusunan rencana, melaksanakan tindakan, mengobservasi, melakukan analisis dan refleksi terhadap hasil observasi dari hasil analisis dan refleksi setiap akhir kegiatan dilakukan tindakan perbaikan pada siklus yang berikutnya berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dibuat sebelumnya.

Pada model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini pembelajaran kemampuan membaca melalui penerapan media gambar.

C.    Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus kegiatan yaitu siklus 1 dan siklus 2. Masing-masing siklus terdiri 4 tahap kegiatan yaitu :
  1. Menyusun rencana tindakan
  2. Melaksanakan tindakan
  3. Melakukan observasi
  4. Membuat analisis dilanjutkan refleksi

Pada penelitian ini yang melaksanakan kegiatan mengajar adalah Kepala Taman Kanak-Kanak bersama-sama dengan guru kelompok B sekaligus sebagai observer

Sabtu, 03 Juni 2017

PTK SD Kelas 2

PTK SD Kelas 2

Cuma 350ribu sampai-500ribu. 


Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)

 

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang 
Hasil pendidikan yang bermutu adalah siswa yang sehat, mandiri, berbudaya, berakhlak mulia, beretos kerja, berpengetahuan dan menguasai teknologi, serta cinta tanah air. Hakekat belajar adalah aktivitas perubahan tingkah laku pembelajar (bahaviouralchange). Perubahan tingkah laku akan tercapai melalui kerja keras dan usaha cerdas dari siapapun mereka yang terlibat dalam proses belajar itu sendiri.
Jadi pendidikan merupakan suatu rangkaian peristiwa yang komplek yang mana manusia tumbuh melalui belajar. Mengajar dan belajar merupakan proses kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam belajar ilmu pengetahuan dan teknologi besar sekali perannya untuk memajukan suatu negara.
Untuk menjadi suatu negara yang maju maka bangsa itu harus cerdas dan banyak pengetahuannya, baik ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, matematika dan ilmu pengetahuan lain yang bersifat ketrampilan.
Pentingnya belajar matematika tidak lepas dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan. Banyak persoalan kehidupan yang memerlukan kemampuan menghitung dan mengukur. Menghitung mengarah pada aritmatika (studi tentang bilangan) dan mengukur mengarah pada geometri (studi tentang bangun) ukuran dan posisi benda.
Aritmatika dan geometri merupakan pondasi atau dasar dari matematika. Oleh karena itu kegiatan belajar dan mengajar matematika diperlukan suatu metode atau model pembelajaran, mengingat siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuannya. Keberhasilan proses belajar mengajar matematika di kelas dapat di lihat dari hasil Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sekolah. Apabila nilai yang di peroleh siswa sesuai atau lebih dari KKM maka dikatakan proses belajar mengajar berhasil.
Sd negeri 13 Baturetno Sragenadalah salah satu SD yang berada di Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Jepara yang berlokasi di tengah kota Jepara. Sekolah Dasar itu menjadi salah satu sekolah favorit di Kabupaten Jepara. Animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke Sd negeri 13 Baturetno Sragensangat besar sekali. Untuk tahun pelajaran 2009/2010 memiliki jumlah murid sebanyak 645 siswa. Dengan fasilitas sekolah yang memadai juga adanya partisipasi dari Stake holder sekolah yang bagus, akhirnya dapat mendukung prestasi siswa untuk belajar secara maksimal.
Tetapi kenyataannya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran masih banyak dijumpai siswa kelas II yang belum menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru khususnya mata pelajaran matematika pada kompetensi perkalian. Karena siswa belum menguasai materi yang ada maka hasil kegiatan pembelajaran tersebut belum memuaskan. Sebagai bukti rendahnya hasil belajar siswa kelas II Sd negeri 13 Baturetno Sragenpada tahap awal ketika diberikan evaluasi dari 49 siswa tingkat ketuntasannya baru mencapai 35 %. Siswa yang tuntas 19 orang yang belum 39 orang. Dengan demikian siswa belum mampu menyelesaikan soal pada konsep perkalian. Faktor penyebabnya antara lain : tingkat pemahaman siswa terhadap materi rendah, siswa kurang konsentrasi belajar dalam kelas. Semangat belajar siswa kurang, siswa kurang berminat pada pelajaran matematika, materi yang disampaikan guru kurang jelas.
Beberapa faktor penyebab rendahnya nilai matematika pada konsep perkalian dikarenakan pembelajaran yang disampaikan oleh guru selama ini hanya berpedoman pada buku paket dan cara penyajian guru dalam kelas hanya menggunakan metode ceramah dan suasana kelas kurang begitu menyenangkan bahkan menjenuhkan. Untuk itu dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat akan lebih mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini penulis ingin meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Jartik/Jarimatika. Model pembelajaran Jartik cukup fleksibel dan mudah dipahami oleh siswa. Jadi diharapkan siswa dapat menjawab soal tanpa harus menghafal perkalian, cukup dengan menggunakan jari-jari tangannya, yang mana konsep perkalian ini dipakai mulai dari perkalian bilangan 6 hingga ke bilangan 10 bagi anak-anak kelas II Sekolah Dasar.   
Mengapa penulis menggunakan metode pembelajaran Jartik pada konsep perkalian ?
Karena ingin sekali meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan hitung perkalian pada siswa kelas II semester II Sd negeri 13 Baturetno Sragentahun ajaran 2009/2010 agar kelak dikelas lebih atasnya materi perkalian ini dapat lebih dikuasai, lebih-lebih dapat bermanfaat bagi siswa itu sendiri.
B.   Perumusan Masalah
Apakah penerapan model pembelajaran Jartik dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada konsep perkalian siswa kelas II semester II SD Negeri Panggang I Jepara tahun pelajaran 2009/2010 ?
C.   Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan pembelajaran tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
1.    Tujuan umum
Agar siswa dapat berpikir kritis, kreatif, cermat, inovatif dan percaya diri dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
2.    Tujuan khusus
a.    Meningkatkan kemampuan berhitung pada konsep perkalian siswa kelas II semester II Sd negeri 13 Baturetno Sragentahun pelajaran 2009/2010.
b.    Untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa dan kegiatan belajar mengajar guru dalam usaha meningkatkan kemampuan berhitung pada konsep perkalian dengan metode jarimatika.
D.   Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini secara praktis diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1.    Manfaat Teoritis
Secara teoritis diharapkan hasil penelitian tindakan kelas ini dapat memberikan informasi sekaligus sebagai pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam mata pelajaran matematika kelas II dalam berhitung pada konsep perkalian.
2.    Manfaat Praktis
a.    Bagi siswa
1.    Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar penelitian yang logis, rasional, kritis, jujur, cermat dan efektif.
2.    Meningkatkan siswa semakin mampu berfikir dalam menyelesaikan masalah serta mempunyai keberanian dalam mengemukakan pendapat di dalam kelas.
3.    Mempersiapkan siswa agar berani bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun orang lain serta mampu menggunakan kemampuannya untuk berpikir logis.
b.    Bagi guru
1.    Dapat lebih mengetahui potensi yang dimiliki oleh siswanya sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar.
2.    Memberikan semangat dalam mengajar agar proses pembelajaran yang aktif atau hidup antara siswa dengan siswa, siswa dan guru terjalin interaksi yang menyenangkan.
3.    Guru dapat mengetahui sejauhmana kemampuan kesulitan siswa.
c.    Bagi sekolah
1.    Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif meningkatkan kualitas pengajaran sekolah.
2.    Sekolah memiliki bermacam-macam variasi model pembelajaran.
E.   Definisi Operasional
Dalam batasan masalah ini bersifat penyederhanaan dan penyempitan ruang lingkup permasalahan.
Semua faktor tersebut pada dasarnya saling mendukung dan mempengaruhinya serta menentukan dalam meningkatkan kemampuan belajar matematika, sehingga untuk menyamakan pandangan mengenai pengertian judul, perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
1.    Belajar
Belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita miliki. Pada saat informasi tersebut akan ditangkap oleh indra, maka bagaimana informasi tersebut disampaikan (modalitas) berpengaruh pada kecepatan otak menangkap informasi dan kekuatan otak menyimpan informasi tersebut dalam ingatan atau memori. (Munif Chatib, 2009).
2.    Matematika  
Manusia telah menggunakan matematika sejak adanya catatan tertulis. Matematika berkaitan dengan pencarian jumlah dan bentuk serta pembahasannya. Cabang matematika murni adalah ilmu berhitung (aritmatika, geometri dan aljabar).
Matematika berasal dari bahasa latin Manthanein atau Mathema yang berarti belajar atau yang dipelajari, sedangkan dalam Bahasa Belanda disebut Wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas, sistematis, dan berkaitan antar konsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Selain itu matematika juga bekerja melalui penalaran tertentu.
3.    Operasi perkalian
Dalam kehidupan sehari hari kita sering menjumlahkan bilangan yang sama berulang kali.
Penjumlahan yang berulang itu disebut perkalian. Dengan menggunakan perkalian maka perhitungan dapat lebih cepat diselesaikan, maka untuk mengenalkan konsep operasi hitung perkalian dan pembagian pada sistem bilangan bulat juga dilakukan melalui 3 tahap yaitu tahap pengenalan konsep secara konkret, tahap pengenalan konsep secara semi konkret dan semi abstrak, dan tahap pengenalan konsep secara abstrak.
4.    Jarimatika
Banyak metode yang sampai saat ini dipelajari oleh para guru, tetapi semuanya memakai alat bantu dan kadang membebani memori otak anak. Berawal dari pengalaman seorang ibu yang tertarik dengan jari sebagai alat bantu yang tidak perlu dibeli, dibawa kemana-mana dan ternyata juga mudah dan menyenangkan, mereka mempelajarinya dengan anak-anaknya sehingga metode ini sangat menyenangkan dan menguasai keterampilan berhitung.
Akhirnya penelitian dari hari ke hari untuk mengotak-atik jari hingga ke perkalian dan pembagian, serta mencari uniknya berhitung dengan keajaiban jari maka dinamakannya “Jarimatika”.
5.    Siswa kelas II semester II
Adalah murid atau peserta didik Sekolah Dasar yang duduk di kelas II semester II (dua) dengan jumlah siswa 49.
6.    Sd negeri 13 Baturetno Sragentahun pelajaran 2009/2010 adalah Sekolah Dasar atau salah satu lembaga pendidikan dasar yang beralamat di jalan Mangunsarkoro Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara pada masa tahun ajaran 2009/2010.
Berdasarkan penegasan istilah-istilah tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa maksud dan judul ini adalah suatu penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa dan kegiatan belajar mengajar guru dalam usaha untuk meningkatkan kemampuan belajar matematika pada konsep perkalian dengan metode pembelajaran Jarimatika siswa kelas II semester II Sd negeri 13 Baturetno SragenKecamatan Jepara Kabupaten Jepara Tahun Ajaran 2009/2010.
     


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.   Tinjauan tentang Pembelajaran Matematika
l.     Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa (Amin Suyitno 2004 : 1). Matematika memiliki nilai-nilai yang sangat penting dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga keterkaitan antar antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah di mengerti oleh siswa, proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan. Tujuan pembelajaran adalah melatih dan menumbuhkan cara berpikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Serta mengembangkan sikap gigih dan percaya diri sesuai dalam menyelesaikan masalah. Nilai-nilai yang diperlukan dalam pengajaran matematika bertujuan untuk dapat menumbuhkembangkan dan membentuk pribadi siswa, sehingga sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan. Pola tingkah manusia yang tersusun menjadi suatu modal sebagai prinsip-prinsip belajar diaplikasikan ke dalam matematika. Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, jelas, belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol, maka konsep matematika harus dipahami lebih dahulu sebelum memanipulasi simbol itu.
Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang itu. Karena itu, untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut.
Karena kehirarkisan matematika itu, maka pemahaman matematika yang terputus-putus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti proses belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinyu. Di dalam proses belajar matematika terjadi juga proses berpikir, sebab seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental dan orang yang belajar matematika mesti melakukan kegiatan mental. Dalam berpikir itu, orang-orang menyusun hubungan-hubungan antara bagian bagian informasi yang telah direkam di dalam pikiran orang itu sebagai pengertian-pengertian. Dari pengertian itu terbentuklah pendapat yang pada akhirnya ditarik kesimpulan. Tentunya kemampuan berpikir seseorang itu dipengaruhi oleh intelegensinya. Dengan demikian terlihat adanya kaitan antara intelegensi dengan proses belajar matematika.
2.    Tujuan Pengajaran Matematika di Sekolah
Dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), tujuan umum diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan umum adalah :
a.    Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
b.    Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Sedangkan tujuan khusus pengajaran matematika di sekolah dasar adalah :
a.    Menumbuhkan dan mengembangkan ketrampilan (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
b.    Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan, melalui kegiatan matematika.
c.    Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Menengah Pertama (SMP).
d.    Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
Pengajaran matematika di sekolah dibedakan dengan pengajaran di perguruan tinggi. Pengajaran matematika di sekolah mempelajari matematika yang sifatnya elementer tetapi merupakan konsep esensial sebagai dasar untuk prasyarat konsep yang lebih tinggi dan banyak aplikasinya dalam kehidupan sosial di masyarakat. Pada umumnya mempelajari konsep-konsep dengan cara pendekatan induktif hal ini karena disesuaikan dengan kognitif siswa yang dicapainya.
3.    Metode Jarimatika
Berawal dari kepedulian seorang ibu terhadap materi pendidikan anak-anaknya. Setelah anak saya yang pertama menguasai kemampuan baca di usia 2,5 tahun, tibalah saatnya untuk memasuki gerbang pengenalan berhitung. Banyak metode saya pelajari, tetapi semuanya memakai alat bantu dan kadang membebani memori otaknya. Setelah itu saya mulai tertarik dengan jari sebagai alat bantu yang tidak perlu dibeli, dibawa kemana-mana dan ternyata juga mudah dan menyenangkan. Anak-anak saya menguasai metode ini dengan menyenangkan dan menguasai keterampilan berhitung. Akhirnya penelitian dari hari ke hari untuk mengotak-atik jari hingga ke perkalian dan pembagian, serta mencari uniknya berhitung dengan keajaiban jari dan kami menamakannya “Jarimatika”.
Penerapan pada anak
Dimulai pada usia 3 tahun untuk pengenalan konsep sampai usia 12 tahun Jarimatika ini ada 4 level, masing-masing ditempuh 3 bulan. Setelah selesai lulusan Jarimatika akan masuk ke “Fun Mathematic Club” yang akan mengupas matematika secara mudah dan menyenangkan, sesuai materi di sekolahnya bahkan direncanakan sampai materi SMA.
Penggunaan
Dibandingkan dengan metode lain, metode “Jarimatika” lebih menekankan pada penguasaan konsep terlebih dahulu baru ke cara cepatnya, sehingga anak-anak menguasai ilmu secara matang. Selain itu metode ini disampaikan secara fun, sehingga anak-anak akan merasa senang dan gampang bagaikan “tamasya belajar”.
Keistimewaan
•      Memberikan visualisasi proses berhitung
•      Menggembirakan anak saat digunakan
•      Tidak memberatkan memori otak
•      Alatnya gratis, selalu terbawa dan tidak dapat disita
•      Pengaruh daya pikir dan psikologis
•      Karena diberikan secara menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru.
•      Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal.
•      Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas.
Pengaruh daya pikir dan psikologis
•      Karena diberikan secara menyenangkan maka sistem limbik di otak anak akan senantiasa terbuka sehingga memudahkan anak dalam menerima materi baru.
•      Membiasakan anak mengembangkan otak kanan dan kirinya, baik secara motorik maupun secara fungsional, sehingga otak bekerja lebih optimal.
•      Tidak memberatkan memori otak, sehingga anak menganggap mudah, dan ini merupakan step awal membangun rasa percaya dirinya untuk lebih jauh menguasai ilmu matematika secara luas.
Kerangka Berfikir
Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam belajar matematika pada konsep perkalian melalui model pembelajaran Jarimatika siswa difokuskan untuk belajar secara mandiri dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi sehari-hari, dengan harapan siswa semakin trampil dan cerdas dalam mengerjakan soal perkalian. Soal perkalian merupakan salah satu kunci utama dalam pengerjaan hitung. Melalui penghafalan perkalian dapat melatih siswa dalam mengembangkan kreativitas siswa dan dapat menumbuhkembangkan kecerdasan otak siswa. Belajar dengan Jarimatika dapat menambah kreativitas siswa dan mendorong terciptanya suatu kemungkinan yang lebih besar untuk berlatih sehingga diperkirakan siswa yang belajar tersebut secara mental emosional cenderung untuk menjadi pusat proses belajar mengajar.
Hipotesa Tindakan
Berdasarkan kerangka berfikir di atas dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : melalui model pembelajaran jarimatika, hasil belajar matematika pada konsep perkalian siswa kelas II semester II Sd negeri 13 Baturetno Sragen tahun ajaran 2009/2010 dapat ditingkatkan.

 

PTK BAHASA INDONESIA SD

PTK BAHASA INDONESIA SD

Cuma 350ribu sampai-500ribu. 


Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)

 

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1 Metode Mengajar
A.A. Gede Agung (1999 : 1) mengatakan “metode berasal dari kata methodos. Secara etimologis metodos berasal dari kata metha artinya dilalui dan thodos artinya jalan. Metode adalah jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan”.
Metode merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Di dalam dunia pendidikan terdapat berbagai jenis metode yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan di dalam kegiatan belajar mengajar.
“Metode mengajar adalah kegiaran guru untuk mencapai tujuan tertentu” (Nasution, 1982 : 43). Dalam proses pembelajaran guru melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendapat tersebut juga didukung oleh Syaiful Bahri Djamalah dan Aswan Zain (1995 : 53) yang mengatakan bahwa metode mengajar adalah ”strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan”.
Menurut Nana Sudjana (1989 : 76) metode mengajar adalah “cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pelajaran” Guru dan siswa mengadakan hubungan pada saat pembelajaran. Hendaknya guru menggunakan cara-cara yang tepat supaya terjadi hubungan yang kondusif sehingga tujuan tercapai.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah suatu cara yang harus ditempuh atau dilalui di dalam menyampaikan suatu materi untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu situasi pendidikan atau pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Download ptk bahasa indonesia kelas 5 Wujud interaksi pengajaran melalui beberapa pendekatan menghendaki adanya pertimbangan yang kuat atas keunikan dan keragaman peserta didik. Seorang guru sudah barang tentu dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi. Metode mengajar merupakan cara-cara yang ditempuh guru unuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan.
2.1.2 Jenis-Jenis Metode Mengajar
Jenis-jenis metode mengajar menurut Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain (1995 : 93) adalah 1) Metode Proyek yaitu metode pengajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah dan dipecahkan secara keseluruhan dan bermakna, 2) metode eksprimen yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 3) metode tugas, yaitu cara penyajian pelajaran melalui percobaan, 4) metode penugasan latihan yaitu memberian pertanyaan problematic kepada siswa untuk dibahas dan dipecahkan bersama, 5) metode sosiodrama yang dilakukan dengan cara mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial, 6) metode demonstrasi yaitu cara penyajian pelajaran dengan cara meragakan kepada siswa tentang suatu proses disertai penjelasan lisan, 7) metode problem solving dimana siswa mencari jalan keluar dari suatu masalah, metode karyawisata dengan mengajak siswa meninjau obyek tertentu, 9) metode tanya jawab dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, 10) metode latihan yang digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, 11) metode ceramah yang digunakan untuk menyampaikan keterangan/informasi/uraian tentang sesuatu secara lisan.
Nana Sudjana (1987 : 76) menambahkan lagi 5 jenis metode mengajar yaitu 1) metode simulasi yang dilakukan melalui perbuatan yang bersifat pura-pura, 2) metode survai masyarakat yaitu cara memperoleh informasi dengan jalan observasi dan komunikasi langsung, 3) metode piersource person (manusia sumber) yaitu dengan mendatangkan orang luar yang mempunyai keahlian sumber, 4) metode sistem regu yaitu cara mengajar dimana sebuah kelompok siswa diajar oleh 2 orang guru atau lebih, 5) metode kerja kelompok yaitu guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan secara berkelompok.
“Diantara sekian banyak metode mengajar yang dikenal guru, ada 10 metode mengajar yaitu “metode ceramah, Tanya jawab, penugasan latihan, kerja kelompok pemberian tugas, demonstrasi, ekperimen, simulasi, inkuiri dan metode pengajaran unit/ pembelajaran teroadu” (Mulyani Sumantri dan Johan Permana, 1998/1999 : 134).
Dari beberapa jenis metode tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan akan dapat tercapai dengan baik sangatlah tergantung pada tepat tidaknya guru tersebut menggunakan metode pada mata pelajaran tertentu. Tujuan-tujuan pendidikan pembelajaran dan jenis mata pelajaran menentukan metode apa sebaiknya digunakan. Setiap mata pelajaran tertentu mempunyai metode tertentu sesuai dengan kekhususan mata pelajaran tersebut. Oleh sebab itu guru hendaknya dapat menentukan metode apa yang paling efisien bagi pelajarannya sehingga tujuan pengajaran tercapai secara baik.
Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun metode yang dapat dianggap lebih sempurna dari pada yang lain. Masing-masing metode memunyai keunggulan dan kekurangannya. Karena itu dalam proses pembelajaran dapat digunakan lebih dari satu metode. Dalam penelitian ini metode yang dikaji dibatasi hanya pada metode tugas dan latihan. Contoh ptk bahasa indonesia kelas 5 pdf
2.1.3 Metode Tugas
Metode ini sangat cocok diberikan untuk mengimbangi bahan pelajaran yang sangat banyak sementara waktu sedikit.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 96) mengatakan bahwa “metode tugas adalah cara penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar bisa melakukan kegiatan belajar”. Masalah tugas yang dilakukan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah di perpustakaan, di bengkel, di Laboratorium, di rumah siswa atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.
Tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara berkelompok
Tugas yang dapat diberikan kepada anak didik ada berbagai jenis, karena itu tugas sangat banyak macamnya, tergantung pada tujuan yang akan dicapai, seperti tugas meneliti, menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas di laboratorium dan lain-lain. Menurut Nana Sudjana (1987 : 81) mengatakan ada beberapa langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas yaitu :
a. Fase Pemberian Tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbang-kan
1. Tujuan yang akan dicapai
2. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
3. Sesuai dengan kemampuan siswa
4. Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa
5. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut
b. Langkah Pelaksanaan Tugas
1. Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru
2. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
3. Diusahakan / dikerjakan oleh siswa sendiri tidak menyuruh orang lain
4. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik
c. Mempertanggung jawabkan tugas
Hal yang harus dikerjakan adalah :
1. Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apad yang telah dikerjakannya
2. Ada Tanya jawab/penugasan latihan kelas
3. Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 98) mengatakan metode tugas mempunyai kelebihan dan kekurangan adalah sebagai berikut :
1. Kelebihannya :
a) Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual/ kelompok
b) Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar penugasan guru
c) Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa
d) Dapat mengembangkan kreativitas siswa
2. Kekuranganya
a) Siswa sulit dikontrol apakah benar ia yang mengerjakan tugas ataukah orang lain
b) Khusus untuk tugas kelompok yang aktif mengerjakan dan menyelesaian adalah anggota tertentu saja. Sedangkan anggota lainnya tidak berpartisipasi dengan baik
c) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
d) Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa
Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode tugas tersebut, bila dikaitkan dengan nilai siswa sangatlah mendukung. Dengan metode tugas akan bisa membangkitkan semangat belajar siswa, mandiri, bertanggung jawab dan penuh kreatif, hal ini akan bisa memcapai nilai yang baik. Menurut Mulyani Sumantri dan Johar Permana (1998/1999 :151) mengatakan ”metode tugas mempunyai kekuatan dan keterbatasan, yaitu sebagai berikut”.
1. Kekuatan metode tugas :
a) Membuat peserta didik aktif belajar
b) Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pada saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar sekolah
c) Mengembangkan kemandirian peserta didik
d) Lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari
e) Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari mengolah sendiri informasi dan komunikasi
f) Membuat peserta didik dan bergairah belajar karena dapat dilakukan dengan bervariasi
g) Membina tanggung jawab dan disiplin siswa
h) Mengembangkan kreativitas peserta didik
2. Keterbatasan metode tugas
a) Sulit mengontrol peserta didik apakah belajar sendiri atau dikerjakan orang lain
b) Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu peserta didik
c) Tugas yang monoton dapat membosankan peserta didik
d) Tugas yang banyak sering dapat membuat beban dan keluhan peserda didik
e) Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau peserta didik yang rajin dan pintar.
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penggunaan metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok.
Setelah Tanya jawab atau ceramah diketahui bahan-bahan yang perlu mendapatkan penekanan dan harus dikuasai peserta didik oleh karena itu guru memberikan tugas dengan alasan agar peserta didik dapat belajar sendiri atau berkelompok mencari pengayaan atau sebagai tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Metode penugasan menjadi salah satu cara penyampaian pengajaran untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban-jawaban atau tugas yang diberikan guru.
2.1.4 Metode Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.
Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan.
Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan ini kiranya tidak salah bila memahaini karakteritik metode ini Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1995 : 108) mengatakan kelebihan dan kekurangan metode latihan adalah sebagai berikut :
a) Kelebihan Metode Latihan
1. Untuk memperoleh kecakapan motoris seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat dan terampil menggunakan alat olahraga
2. Untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian menjumlahkan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda dll.
3. Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan symbol membaca peta dan sebagainya
4. Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan
5. Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya
6. Pembentukan kebiasaan-kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang komplek, ruinit, menjadi lebih otomatis
b) Kelemahan Metode Latihan
1. Menghambat bakat dan inisiatif siswa karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian
2. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
3. Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah dan membosankan
4. Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis
5. Dapat menimbulkan verbalisme
Melihat kelebihan dan kekurangan dari metode latihan tersebut , bila dikaitkan dengan keaktifan dan nilai siswa sangatlah mendukung. Dengan metode latihan akan tertanam kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa.
Penggunaan metode tugas biasanya diberikan pada saat guru selesai memberikan materi pelajaran kepada siswa, ada kalanya timbul suatu persoalan/ masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan melalui ceramah. Untuk itu guru perlu menggunakan metode tugas sebagai jalan keluarnya baik tugas-tugas individu maupun tugas kelompok, sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik.
2.1.5 Ragam Karangan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Seperti kita ketahui, karangan dapat disajikan dalam 5 bentuk yaitu : diskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi dan persuasi. Masing-masing bentuk itu tidak selalu dapat berdiri sendiri. Penanaman ragamsuatu karangan lebih didasarkan atau corak yang paling doininan pada karangan tersebut.