Minggu, 21 Mei 2017

PTK Taman Kanak Kanak

PTK Taman Kanak Kanak
 
Jasa (Penelitian Tindakan Kelas) Murah, Lengkap dan Profesional

 Cuma 350ribu sampai-500ribu. 

Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Pendidikan Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang terdapat di jalur pendidikan sekolah (PP No. 27 Tahun 1990). Sebagai lembaga pendidikan pra-sekolah, tugas utama Taman Kanak-Kanak adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat melakukan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di Sekolah Dasar.

Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Taman Kanak-Kanak merupakan lembaga pendidikan pra-sekolah atau pra-akademik. Dengan demikian Taman Kanak-Kanak tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membina kemampuan akademik anak seperti kemampuan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan akademik atau skolastik ini harus menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan Sekolah Dasar.

Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dan terimplementasikan dalam praktik kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di Indonesia. Pergeseran tanggung jawab pengembangan kemempuan skolastik dari Sekolah Dasar ke Taman Kanak-Kanak terjadi di mana-mana, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Banyak Sekolah Dasar seringkali mengajukan persyaratan atau tes “membaca dan menulis”. Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar seperti ini sering pula di anggap sebagai lembaga pendidikan “berkualitas dan bonafide”.

Peristiwa praktik pendidikan seperti itu mendorong lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak maupun orang tua berlomba mengajarkan kemampuan akademik membaca dan menulis dengan mengadapsi pola-pola pembelajaran di Sekolah Dasar. Akibatnya, tidak jarang Taman Kanak-Kanak tidak lagi menerapkan prinsip-prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain, sehingga Taman Kanak-Kanak tidak lagi taman yang indah, tempat bermain dan berteman banyak, tetapi beralih menjadi “Sekolah” Taman Kanak-Kanak dalam makna menyekolahkan secara dini pada anak-anak. Tanda-tandanya terlihat pada pentargetan kemampuan akademik membaca dan menulis agar bisa memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar favorit. PTK Taman Kanak Kanak

Mengajarkan membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak dapat dilaksanakan selama batas-batas aturan pengembangan pra-sekolah serta mendasarkan diri pada prinsip dasar hakiki dari pendidikan Taman Kanak-Kanak sebagai sebuah taman bermain, sosialisasi, dan pengembangan berbagai kemampuan pra-skolastik yang lebih substansi yaitu bidang pengembangan kemampuan dasar yang meliputi kemampuan berbahasa atau membaca kognitif, fisik-motorik dan seni.

Mencermati kondisi kegiatan pembelajaran membaca dan menulis di Taman Kanak-Kanak yang berlangsung sebagaimana digambarkan di atas, perlu dilakukan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan tertentu yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi. Dengan serangkaian tindakan itu diharapkan dapat mengubah suasana pembelajaran ke arah pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa terlibat secara aktif dan menyenangkan. Hal itu dapat dicapai dengan melalui pembelajaran menggunakan media gambar. Media gambar adalah penyajian visual 2 dimensi yang dibuat berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar, yang berisi unsur kehidupan sehari-hari tentang manusia benda-benda, binatang, peristiwa, tempat dan sebagainya (Taufik Rachmat, 1994).

Gambar banyak digunakan guru sebagai media dalam proses belajar mengajar, sebab mudah diperoleh tidak mahal dan efektif, serta menambah gairah dalam motivasi belajar siswa.
B.    Rumusan Masalah PTK Taman Kanak Kanak

Agar penelitian tindakan ini dapat lebih terarah, maka secara operational permasalahan penelitian ini difokuskan pada media gambar dan guru dalam pelaksananaan proses belajar mengajar, membaca di Kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Secara rinci permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak secara klasikal ?
  2. Bagaimanakah gambaran pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok ?
  3. Apakah terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah mereka mengikuti pembelajaran membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar?
C.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menemukan terjadinya peningkatan kemampuan membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :
  1. Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara klasikal.
  2. Menggambarkan pembelajaran membaca di Taman Kanak-Kanak dengan media gambar secara kelompok.
  3. Menemukan terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca setelah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media gambar.
D.    Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian yang menjadi batasan materi dalam penelitian adalah kemampuan berbahasa dengan media gambar di Taman Kanak-Kanak Kelompok B. penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo.

E.    Definisi Operasional PTK Taman Kanak Kanak

Untuk mendapatkan kesamaan arti pada penelitian ini dipertukarkan pendefinisian istilah :
  1. Kemampuan berbahasa yang diajarkan di Taman Kanak-Kanak kelompok B pada penelitian ini sesuai dengan materi yang terdapat pada kurikulum Taman Kanak-Kanak 2004 yaitu kemampuan membaca permulaan (pra membaca), sedangkan pelaksanaannya menggunakan pendekatan temaik dan pembelajaran yang berorientasi pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain.
  2. Yang dimaksud siswa mampu membaca permulaan (pra membaca) adalah siswa dapat menghubungkan dan menyebutkan tulisan sederhana dengan simbol yang melambangkannya atau media gambarnya.
F.    Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi :
  1. Siswa Taman Kanak-Kanak, agar mereka terbiasa dalam suasana kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-Kanak yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
  2. Bagi guru Taman Kanak-Kanak, dengan penerapan media gambar, guru memperoleh pengalaman baru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak yang berpusat pada anak.
  3. Bagi peneliti, dapat membantu guru dalam mengatasi masalah dalam pembelajaran kemampuan berbahasa di Taman Kanak-Kanak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PTK Taman Kanak Kanak


A.    Perkembangan Kemampuan Berbahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak  yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik pada umumnya memiliki kemampuan yang baik pula dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan serta tindakan interaktif dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa ini tidak selalu didominasi oleh kemampuan membaca saja tetapi juga terdapat sub potensi lainnya yang memiliki peranan yang lebih besar seperti penguasaan kosa kata, pemahaman (mendengar dan menyimak) dan kemampuan berkomunikasi.

Pada usia Taman Kanak-Kanak (4 – 6 tahun), perkembangan kamampuan berbahasa anak ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut :
  1. Mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi.
  2. Memiliki  berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya dan kata sambung.
  3. Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
  4. Mampu menggungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
  5. Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar

Perkembangan kemampuan tersebut muncul ditandai oleh berbagai gejala seperti senang bertanya dan memberikan informasi tentang berbagai hal, berbicara sendiri, dengan atau tanpa menggunakan alat seperti (boneka, mobil mainan, dan sebagainya). Mencoret-coret buku atau dinding dan menceritakan sesuatu yang fantastik. Gejala-gejala ini merupakan pertanda munculnya kepermukaan berbagai jenis potensi tersembunyi (hidden potency) menjadi potensi tampak (actual potency). Kondisi tersebut menunjukkan berfungsi dan berkembangnya sel-sel saraf pada otak. (DepDikNas, 2000 : 6)

Secara khusus, perkembangan kemampuan membaca pada anak berlangsung dalam beberapa tahap sebagai berikut:

1.    Tahap fantasi (magical stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak.

2.    Tahap pembentukan konsep diri (self concept stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.
Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak. Guru hendaknya memberikan akses pada buku-buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membacakan buku.

3.    Tahap membaca gambar (bridging reading stage)
Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalinya serta sudah mengenal abjad.
Pada tahap ketiga, guru membacakan sesuatu pada anak-anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan sesering mungkin.

4.    Tahap pengenalan bacaan (take-off reader stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (fraphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.
Pada tahap keempat guru masih harus membacakan sesuatu pada anak-anak sehingga mendorong anak membaca suatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna.

5.    Tahap membaca lancar (independent reader stage)
Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca. (DepDikNas, 2000 : 7 – 8).

Untuk memberikan rangsangan positif terhadap munculnya berbagai potensi keberbahasaan anak diatas maka permainan dan berbagai alatnya memegang peranan penting. Lingkungan (termasuk didalamnya peranan orang tua dan guru) seharusnya menciptakan berbagai aktifitas bermain secara sederhana yang memberikan arah dan bimbingan agar berbagai potensi yang tampak akan tumbuh dan berkembang secara optimal

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA ANAK USIA DINI

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA ANAK USIA DINI 

Jasa (Penelitian Tindakan Kelas) Murah, Lengkap dan Profesional

 Cuma 350ribu sampai-500ribu. 

Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)
 
 
Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang berada pada jalur pendidikan formal, seperti yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah nomor 27 Tahun 1990.
Sebagai lembaga pendidikan prasekolah, tugas utama TK adalah mempersiapkan anakdengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap/perilaku, dan keterampilan agar anak dapat melanjutkan kegiatan belajar yang sesungguhnya di sekolah dasar.
TK merupakan lembaga pendidikan pra-skolastik atau pra-akademik. Itu artinya, TK tidak mengemban tanggungjawab utama dalam membelajarkan keterampilan membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan skolastik atau akademik ini haruslah menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan sekolah dasar.
Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dengan praktik kependidikan baik di TK ataupun SD di Indonesia. Pergeseran tanggungjawab dalam membelajarkan kemampuan skolastik/akademik khususnya yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis ini seolah-olah telah bergeser dari sekolah dasar ke TK. Bahkan terdapat SD yang dengan sengaja mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik, terutama tes membaca dan menuis. Akibatnya banyak TK yang tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat bermain yang menyenangkan bagi anak.
Pada dasarnya, membelajarkan persiapan membaca dan menulis di TK dapat saja dilaksanakan selama dalam batas-batas aturan pengembangan pra-skolastik atau pra-akademik. Pembelajaran persiapan membaca dan menulis di TK hendaknya dapat diberikan secara terpadu dalam program pengembangan kemampuan dasar dalam hal ini bidang pengembangan berbahasa dan motorik.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan dan masa peka anak pada aspek perkembangan bahasa ini dapat distimulasi melalui kegiatan bercerita pada anak TK.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting bagi setiap orang. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan sosialnya dengan orang lain. Penguasaan keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Disamping itu bahasa merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan orang lain. Tanpa bahasa seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak.
Komunikasi antar anak dapat terjalin dengan baik dengan bahasa sehingga anak dapat membangun hubungan sehingga tidak mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang merupakan cerminan anak yang cerdas. Pengembangan bahasa diarahkan agar anak mampu menggunakan dan mengekspresikan pemikirannya dengan menggunakan kata-kata.
Dengan kata lain pengembangan bahasa lebih diarahkan agar anak dapat:
1.       Mengolah kata secara komprehensif.
2.       Mengekspresikan kata-kata tersebut dalam bahasa utuh (ucapan dan perbuatan) yang dapat dipahami oleh orang lain.
3.       Mengerti setiap kata, mengartikan dan menyampaikannya secara utuh kepada orang lain.
4.       Berargumentasi, meyakinkan orang melalui kata- kata yang diucapkannya.
Pengembangan bahasa anak dapat dilakukan melalui bercerita, mengingat anak didik kurang mampu mengungkapkan kata-kata dengan lancar dan masih sulit berbicara dengan kalimat sederhana yang benar.
Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat memenuhi harapan guru TK dan orang tua pada umumnya untuk mengembangkan Kemampuan Bahasa Anak di TK melalui Kegiatan Bercerita

dan Apakah kemampuan bahasa  anak usia dini di TK dapat ditingkatkan melalui kegiatan bercerita?


LANDASAN TEORI
A.    Kemampuan Bahasa
1.      Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan tanda atau simbol-simbol dari benda- benda, serta menunjuk pada maksud-maksud tertentu. Kata-kata, kalimat, dan bahasa selalu menampilkan arti-arti tertentu. Sehubungan dengan arti simbolik tadi, bahasa dipakai juga sebagai alat untuk menghayati pengertian-pengertian dan peristiwa-peristiwa di masa lampau, masa kini dan masa mendatang. Oleh karena itu bahasa sangat besar artinya bagi anak sebagai alat bantu.
Bahasa adalah alat komunikasi antar manusia dapat berbentuk lisan, tulisan atau isyarat. Bahasa merupakan simbol-simbol yang disepakati dalam suatu komunitas masyarakat. Pengembangan bahasa untuk anak usia 4-6 tahun difokuskan pada keempat aspek bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dengan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, anak akan mendapatkan banyak sekali kosa kata, sekaligus juga mengekspresikan dirinya. Anak akan belajar bagaimana berpartisipasi dalam suatu percakapan dan menggunakan bahasanya untuk memecahkan masalah. (Winda dan Azizah Muis, 2008 :231 ).
Pendidik dapat berperan sebagai model yang baik dalam berbicara sehingga anak dapat memperoleh cara berkomunikasi yang sesuai dengan konteks dan memenuhi nilai-nilai kesopanan. Dengan mendapatkan contoh, anak diharapkan dapat mempunyai kecakapan dalam mempresentasikan pemikiran dan perasaannya secara verbal ( Azizah Muis, 2008 : 4.16 ).
2.      Perkembangan Bahasa
Penggunaan bahasa anak akan berkembang sesuai hukum alam, yaitu mengikuti bakat, kodrat, dan ritme perkembangan yang alami. Namun perkembangan tadi sangat dipengaruhi oleh lingkungan atau oleh stimuli ekstern (pengaruh lingkungan). Disamping itu bahasa anak terpadu erat dengan alam penghayatannya, terutama dengan emosi atau perasaannya. Hal ini jelas terungkapkan dengan lagu, irama, dan suara anak sewatu ia mengucapkan kata-kata atau kalimat.
Menurut Desmita ( 2009 : 138 ) perkembangan bahasa anak yang sesuai dengan norma tata bahasa, belum bisa selesai pada usia 12-18 tahun. Oleh karena itu anak harus banyak belajar bicara baik dengan menggunakan bahasa yang halus. Pengembangan kemampuan dasar di TK meliputi beberapa pengembangan berbahasa. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan anak. Disamping itu bahasa juga merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain yang sekaligus berfungsi untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. Mengingat besarnya peranan pengembangan bahasa bagi kehidupan anak, maka perlu dikembangkan pada anak didik sejak usia Taman Kanak- Kanak.
Pengembangan kemampuan berbahasa di TK bertujuan agar anak didik mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksudkan adalah lingkungan di sekitar anak antara lain lingkungan teman sebaya, teman bermain, orang dewasa, baik yang ada di sekolah, dirumah maupun dengan tetangga di sekitar tempat tinggalnya.
3.      Karakteristik perkembangan bahasa anak usia dini
Berdasarkan dimensi perkembangan bahasa anak usia dini, pada usia 4- 6 tahun memiliki karakteristik perkembangan, antara lain :
a.       Dapat berbicara dengan menggunakan kalimat sederhana yang terdiri dari 4-5 kata.
b.       Mampu melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar.
c.        Senang mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urut dan mudah dipahami.
d.       Menyebut nama, jenis kelamin dan umurnya. menyebut nama panggilan orang lain (teman, kakak, adik, atau saudara yang telah dikenalnya ).
e.        Mengerti bentuk pertanyaan dengan menggunakan apa, mengapa dan bagaimana.
f.        Dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan kata apa, siapa, dan mengapa.
g.        Dapat menggunakan kata depan seperti di dalam, di luar, di atas, di bawah, di samping.
h.       Dapat mengulang lagu anak- anak dan menyanyikan lagu sederhana.
i.         Dapat menjawab telepon dan menyampaikan pesan sederhana.
j.         Dapat berperan serta dalam suatu percakapan dan tidak mendominasi untuk selalu ingin didengar
4.      Kemampuan Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan salah satu dari bidang pengembangan kemampuan dasar yang telah dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas anak sesuai dengan tahap perkembangannya. pengembangan kemampuan berbahasa bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat untuk dapat berbahasa indonesia. Sesuai dengan standart kompetensi dasar berbahasa adalah anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata dan mengenal simbol-simbol yang melambangkannya untuk persiapan membaca dan menulis.
Pengembangan kemampuan berbahasa ini hendaknya menggunakan pendekatan yang berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun dan berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak, kebutuhan anak, bermain sambil belajar, menggunakan pendekatan tematik, kreatif dan inovatif, lingkungan kondusif, dan mengembangkan kecakapan hidup.
Pengembangan bahasa anak usia dini secara keseluruhan melalui mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis dan apresiasi (the whole language).
5.      Keterampilan Bahasa
Keterampilan Bahasa Anak Usia dini adalah, kemampuan anak dalam mengungkapkan ataupun menerima bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Ada 4 keterampilan bahasa pada anak usia dini, yatu :
a.       Keterampilan berbahasa
Dapat ditunjukkan oleh anak dalam perilaku : menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, mendiskripsikan, melaporkan kejadian, menyatakan suka / tidak suka, meminta ijin, bantuan, mengemukakan alasan, memerintah atau menolak sesuatu.
b.       Keterampilan mendengar
Dapat ditunjukkan oleh anak dalam perilaku : mendengarkan perintah, mendengarkan pertanyaan, mendengarkan orang yang sedang bercerita dan mendengarkan orang yang memberi petunjuk.
c.        Keterampilan berbicara
Dapat ditunjukkan oleh anak dalam perilaku : mengembangkan keterampilan bertanya, menyiapkan kegiatan yang dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menggunakan berbagai kegiatan yang bervariasi.
d.       Keterampilan membaca
Membaca adalah kegiatan yang melibatkan unsur auditif (pendengaran) dan visual (pengamatan)
6.      Fungsi Bahasa
Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi, sering kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil selalu berusaha agar orang lain mengerti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain yang dipakai anak sebelum pandai berbicara. Karena bagi anak, bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya, misalnya:
a.       Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan.
Dengan berbicara anak mudah untuk mcnjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak.
b.      Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain.
Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi sehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.
c.       Sebagai alat untuk membina hubungan sosial.
Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak lebih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat memperoleh kesempatan lebih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
d.      Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri.
Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.
e.        Untuk dapat mecmpengaruhi pikiran dan perasaan orang lain.
Anak yang suka berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mcngucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan modal utama bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya.
f.       Untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Dengan kemampuan berbicara yang baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebayanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.

 

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA 
Jasa (Penelitian Tindakan Kelas) Murah, Lengkap dan Profesional

 Cuma 350ribu sampai-500ribu. 

Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)
 
  Arsyad.Maidar G. dkk 1986 Kesusastraan 1. Karunika Universitas Terbuka Jakarta.
– Lubis, A. Hamid Hasan. 1985. Membaca. FPBS IKIP : Medan
– Drs. Sarimpunan Ritonga, Menyimak, Berbicara, Membaca, Menulis, Apresiasi Karya Sastra.
– Tarigan, Hendri Guntur, 1984. Menyimak sebagai sesuatu keterampilan. Angkasa : Bandung. 1986. Pengajaran Kosa Kata. Angkasa : Bandung.
BAB I. MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA
Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi yaitu:
  • Keterampilan menyimak (listening skills)
  • Keterampilan berbicara (speaking skiils)
  • Keterampilan membaca (reading skills)
  • Keterampilan menulis (writing skills)
Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut diatas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dan catur tunggal.
Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir.
Untuk mendapat keterampilan yang lebih jelas, maka berikut ini akan dibahas sepintas kilas hubungan antara keempat keterampilan itu.
  1. Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung merupakan komunikasi tatap muka atau face to face cominication. (Brooks, 1964:134).
Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata dari hal-hal berikut ini:
1. Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi), oleh karena itu model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.
2. Kata-kata yang akan dipakai serta kita pelajari biasanya ditentukan oleh pengarang (stimuli) yang ditemui, misalnya: kehidupan desa,kota dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasanya.
3.Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
4. Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata.
5. Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penagkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.
  1. Menyimak dan Membaca
Menyimak dan membaca mempunyai persamaan, kedua-duanya bersifat reseprif, bersifat menerima. Bedanya menyimak adalah menerima informasi dari sumber lisan, sedangkan membaca menerima informasi dari sumber tertulis. Dengan kata lain menyimak menerima informasi dari perkataan berbicara, sedangkan membaca menerima informasi dari kegiatan menulis.
Keterampilan menyimak juga merupakan faktor penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau para ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara membaca dengan menyimak sebagai berikut:
a. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang siswa untuk menyimak dengan pemahaman.
b. Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (varbilized learning)
c. Para siswa membutuhkan bimbingan dalam belajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar hasil pengajaran itu baik.
d. Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.
e. Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek sering kali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor pendukung atau faktor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading)
Selagi keterampilan-keterampilan menyimak dan membaca erat berhubungan, maka peningkatan pada yang satu huruf pula menimbulkan peningkatan pada yang lain, kedua-keduanya merupakan proses yang saling mengisi.
Selanjutnya seorang pakar lain mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
*.Baik membaca maupun menyimak menuntut dari para siswa pemilikan suatu kesiapan kecakapan. Hal ini mencakup kedewasaan mental, kosa kata kemampuan mengikuti urutan ide-ide, dan minat terhadap bahasa
*.Baik dalam membaca maupun menyimak biasanya kata bukanlah merupakan kesatuan pemahaman terhadap frase,kalimat,dan paragraph.
* Membaca maupun menyimak dapat berlangsung dalam situasi-situasi individual atau social.
* Untuk meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogianyalah setiap keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai dengan tujuan menyimak tersebut.

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA

MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA
Jasa (Penelitian Tindakan Kelas) Murah, Lengkap dan Profesional

 Cuma 350ribu sampai-500ribu. 

Hubungi Kami di 081222940294 (SMS/WA)
 
 
Keterampilan berbahasa (language arts, language skills) dalam hal ini dibagi menjadi empat segi yaitu:
  • Keterampilan menyimak (listening skills)
  • Keterampilan berbicara (speaking skiils)
  • Keterampilan membaca (reading skills)
  • Keterampilan menulis (writing skills)
Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang terakhir mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut diatas pada dasarnya merupakan satu kesatuan dan catur tunggal.
Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya, semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti melatih keterampilan berpikir.
Untuk mendapat keterampilan yang lebih jelas, maka berikut ini akan dibahas sepintas kilas hubungan antara keempat keterampilan itu.
  1. Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung merupakan komunikasi tatap muka atau face to face cominication. (Brooks, 1964:134).
Antara berbicara dan menyimak terdapat hubungan yang erat ternyata dari hal-hal berikut ini:
1. Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi), oleh karena itu model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara.
2. Kata-kata yang akan dipakai serta kita pelajari biasanya ditentukan oleh pengarang (stimuli) yang ditemui, misalnya: kehidupan desa,kota dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasanya.
3.Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
4. Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata.
5. Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penagkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.
  1. Menyimak dan Membaca
Menyimak dan membaca mempunyai persamaan, kedua-duanya bersifat reseprif, bersifat menerima. Bedanya menyimak adalah menerima informasi dari sumber lisan, sedangkan membaca menerima informasi dari sumber tertulis. Dengan kata lain menyimak menerima informasi dari perkataan berbicara, sedangkan membaca menerima informasi dari kegiatan menulis.
Keterampilan menyimak juga merupakan faktor penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau para ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara membaca dengan menyimak sebagai berikut:
a. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang siswa untuk menyimak dengan pemahaman.
b. Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (varbilized learning)
c. Para siswa membutuhkan bimbingan dalam belajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar hasil pengajaran itu baik.
d. Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.
e. Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek sering kali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor pendukung atau faktor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading)
Selagi keterampilan-keterampilan menyimak dan membaca erat berhubungan, maka peningkatan pada yang satu huruf pula menimbulkan peningkatan pada yang lain, kedua-keduanya merupakan proses yang saling mengisi.
Selanjutnya seorang pakar lain mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:
*.Baik membaca maupun menyimak menuntut dari para siswa pemilikan suatu kesiapan kecakapan. Hal ini mencakup kedewasaan mental, kosa kata kemampuan mengikuti urutan ide-ide, dan minat terhadap bahasa
*.Baik dalam membaca maupun menyimak biasanya kata bukanlah merupakan kesatuan pemahaman terhadap frase,kalimat,dan paragraph.
* Membaca maupun menyimak dapat berlangsung dalam situasi-situasi individual atau social.
* Untuk meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogianyalah setiap keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai dengan tujuan menyimak tersebut.
Adapun hubungan antara tujuan menyimak dan kegiatan membaca yaitu:
Tujuan Menyimak
Kegiatan Membaca
Untuk membedakan dan menemukan
Unsure-unsur fonetik dan struktur kata lisan.
Mempergunakan cuplikan-cuplikan yang mengandung kata-kata yang bersajak.
Untuk menemukan dan memperkenalkan bunyi-bunyi, kata-kata, atau ide-ide baru kepada penyimak.
Membaca nyaring, langsung atau buatan,dalam hal ini rekaman dapat digunakan.
Menyimak serta terperinci agar dapat mengiterprestasikan ide pokok dan menanggapinya secara tepat.
Sesudah menyimak, menunjukkan ide-ide beserta detail-detai yang terpancar darinya.
.
  1. Berbicara dan Membaca
Beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajar membaca. Kemampuan tersebut mencakup ujaran yang jelas dan lancer. Kosa kata yang luas dan beraneka ragam. Penggunaan-penggunaan kalimat lengkap dan sempurna bila diperlukan, pembedaan pandangan yang tepat, dan kemampuan mengikuti serta menelusuri perkembangan urutan suatu cerita atau menghubungkan aneka kejadian dalam urutan yang wajar.
Aneka hubungan antara bidang kegiatan lisan dan membaca telah dapat kita ketahui dalam beberapa telaah penelitian antara lain:
  • Penformansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.
  • Polo-pola ujaran orang yang tuna aksara atau buta huruf mungkin sekali mengganggu pelajaran membaca bagi siswa-siswi.
  • Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung, andaikata muncul kata-kata baru dalam buku bacaan siswa, maka hendaklah guru mendiskusikannya dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.
D .Ekpresi Lisan dan Ekspresi Tulisan
Adalah wajar bila komunikasi lisan dan komunikasi tulisan erat sekali berhubungan karena keduanya mempunyai banyak kesejajaran bahkan kesamaan, yaitu:
v Seorang siswa belajar berbicara jauh sebelumnya dia dapat menulis, dan kosa kata, pola-pola kalimat, serta organisasi ideide yang memberi ciri-ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi ekspresi tulis berikutnya.
v Aneka perbedaan pun terdapat antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Ekspresi lisan cenderung kea rah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetep, tetapi biasanya lebih kacau serta membingungkan dibandingkan ekspresi tulis. Kebanyakan pidato atau pembicaraan bersifat informal, dan sering kali kalimat-kalimat orang yang berpidato atau yang berbicara itu tidak ada hubungannya satu sama lain.
v Membuat catatan serta merakit bagan atau kerangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan akan menolong kita untuk mengutarakan ide-ide tersebut kepada para pendengar. Biasanya bagan yang dipakai sebagai pedoman dalam berbicara sudahlah cukup memadai kecuali dalam kasus laporan formal dan terperinci yang memerlukan penulisamn naskah yang lengkap sebelumnya.
Agar kita mendapat gambaran yang jelas mengenai keempat jenis keterampilan berbahasa tersebut serta hubungannya satu sama lain, marilah kita perhatikan dibawah ini;
Langsung
Langsung
Apresiatif
Komunikasi
Berbicara produktif
Reseptif
Menyimak
Tatap muka
Ekspretif
Fungsional
Keterampilan Berbahasa
Tak langsung produktif
ekspresif
Menulis
Komunikasi tidak tatap muka
Tak langsung
Membaca, afresiatif, reseptif
Fungsional
KESIMPULAN DAN PENUTUP
  1. Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan ketiga keterampilan lainnya dengan cara beraneka ragam.
  2. keterampilan bahasa yang dalam bahasa inngris disebut “language (art and skills)” istilah art “seni,kiat” dipergunakan untuk melukiskan sesuat yang bersifat personal, kreatif, dan original. Sebaliknya kata skills “keterampilan” dipakai untuk menyatakan sesyatu yang bersifat mekanis,eksak, impersonal.
  3. menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat intuk menerima komunikasi.
  4. beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan berbahasa lisan dengan kesiapan membaca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut memperlengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta ketentraman bagi pengajaran membaca